Saturday, April 11, 2015

Tugas Psikoterapi (3B)

1.      Konsep dasar pandangan Humanistik-Eksistensial
Untuk banyak orang, pandangan humanistik-eksistensial sangat bersifat intuitif dan mengemukakan pandangan yang jauh lebih positif tentang manusia dibandingkan dengan pandangan-pandangan lain. Tetapi, para kritikus mengemukakan bahwa pendekatan humanistic-eksistensial memiliki dua masalah yang sangat penting. Masalah pertama adalah banyak dari konsepnya yang sangat penting, seperti aktualisasi diri, tidak jelas, dan tidak dapat diukur. Karena konsep-konsepnya tidak dapat diukur, maka teori tersebut tidak dapat diuji, dan suatu teori yang tidak dapat diuji bernilai terbatas. Tetapi, para humanis dan eksistensialis tidak terusik oleh adanya bukti ilmiah karena pengalaman pribadi mereka sendiri meneguhkan teori tersebut.
Masalah kedua adalah para ahli teori humanistic-eksistensial tidak mengembangkan suatu teori yang luas tentang tingkah laku abnormal. Banyak perhatian mereka dipusatkan pada kecemasan umum atau depresi yang dialami oleh orang-orang yang relatif normal tetapi mereka tidak secara sistematis berbicara mengenai gangguan-gangguan yang spesifik atau gangguan-gangguan yang lebih berat. 
Pandangan humanistic-eksistensial perlu diketahui karena pandangan tersebut berlawanan atau bertolak-belakang dengan pandangan-pandangan lain. Tetapi karena pandangan humanistic-eksistensial tidak diterapkan dalam sejumlah tingkah laku abnormal dan tidak pernah diuji secara empiris, maka dalam uraian selanjutnya perhatian terhadap pandangan ini adalah kurang dibandingkan dengan pandangan-pandangan lain.
2.      Unsur-unsur Terapi
Tujuan terapi humanistik-eksistensial adalah membantu penderita supaya ia memperoleh atau menemukan kemanusiaannya yang hilang. Dengan kata lain, terapis eksistensial-humanistik membantu memperluas kesadaran dari penderita, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya yakni menjadi bebas dan bertanggungjawab terhadap arah hidupnya sendiri.
Peran terapis adalah membantu penderita agar ia menyadari keberadaannya di dunia ini.
3.      Teknik-teknik Terapi

Terapi-terapi psikodinamik cenderung memusatkan perhatian pada proses-proses tak sadar, seperti konflik-konflik internal yang terletak di luar kesadaran. Sebaliknya, terapi-terapi humanistik-eksistensial memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaan sadar. Terapi-terapi humanistik-eksistensial juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang dialami pasien pada masa masa sekarang “di sini dan kini” dan bukan pada masa lampau. Tetapi, ada juga kesamaan-kesamaan antara terapi-terapi psikodinamik dan terapi-terapi humanistik-eksistensial, yakni kedua-duanya menekankan bahwa peristiwa-peristiwa dan perasaan-perasaan individu sekarang, dan kedua-duanya juga berusaha memperluas pemahaman diri dan kesadaran diri pasien.

Sumber:
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius

Psikoterapi (Tugas 3A)

  1. Konsep dasar teori psikoanalisis tentang kepribadian
Bagian utama teori psikoanalitik adalah Freud merupakan orang pertama yang memetakan alam bawah sadar manusia.
Kesadaran berupa sikap-sikap, perasaan-perasaan, dan pikiran-pikiran yang ditekan, serta tidak dapat dikontrol oleh kemauan, hanya dengan susah payah ditarik-kalau dapat-ke alam sadar, tidak terikat oleh hukum-hukum logika, dan tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Keprasadaran adalah kenangan-kenangan yang dapat diingat kembali, meskipun agak sulit; sedangkan kesadaran adalah tingkat pemikiran dan perbuatan yang nyata di mana bahanya mudah diingat kembali dan diterapkan bagi tuntutan-tuntutan lingkungan. Baik bahan sadar maupun bahan prasadar sesuai dengan – dan responsif – terhadap kenyataan.
Ketidaksadaran adalah dorongan-dorongan, keinginan-keinginan, sikap-sikap, perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, atau insting-insting yang tidak dapat dikontrol oleh kemauan, hanya dengan susah payah ditarik-kalau dapat-ke dalam kesadaran, tidak terikat oleh hukum-hukum logika, dan tidak dapat dibatasi oleh waktu dan tempat. Ketidaksadaran memotivasi sebagaian besar kata-kata, perasaan, dan tindakan manusia. Karena ketidaksadaran tidak mudah disadari.
Tingkat pikiran prasadar berisi semua elemen yang tak sadar, tetapi dapat dengan mudah disadari. Isi keprasadaran berasal dari dua sumber, yakni persepsi sadar dan ketidaksadaran. Dalam persepsi sadar apa yang dipersepsikan seseorang adalah sadar hanya untuk sementara waktu, tetapi kemudian cepat memasuki keprasadaran bila pusat perhatian beralih ke pikiran lain. Dalam sumber kedua yakni ketidaksadaran, pikiran-pikiran dapat menerobos penyensur yang selalu waspada dan memasuki keprasadarna, sekalipun dalam bentuk tersamar.
Alam sadar yang memainkan peran yang relatif kecil dalam teori psikoanalitik dapat didefinisikan sebagai elemen-elemen mental dalam kesadaran pada saat tertentu. Kesadaran merupakan satu-satunya tingkat kehidupan mental yang secara langsung tersedia bagi kita. Pikiran-pikiran dapat mencapai kesadaran dari dua arah yang berbeda.
A.    Pandangan Freud tentang Struktur Kepribadian
Tubuh kita mempunyai struktur tertentu: ada kepala, kaki, lengan, dan batang tubuh. Psike kita juga mempunyai struktur, walaupun tentu tidak terdiri dari bagian-bagian dalam ruang. Struktur psikis manusia menurut Freud meliputi tiga instansi atau tiga sistem yang berbeda-beda. Ketiga instansi masing-masing adalah Id, Ego, Superego. Superego itu berhubungan erat dengan apa yang kita sebut dalam etika dengan nama “hati nurani”. Tapi supaya hubungan itu daoat dimengerti, perlu lebih dulu dijelaskan tenang ketiga instansi itu, satu demi satu.
Selanjutnya menurut Freud kepribadian terdiri dari Id, Ego, Superego. Id merupakan bagian primitif dari kepribadian. Id mengandung insting seksual dan insting agresif. Id membutuhkan satisfaction dengan segera tanpa memperhatikan realitas yang ada, sehingga oleh Freud disebut prinsip kenikmatan (pleasure principle). Ego disebut prinsip realitas (reality principle). Ego menyesuaikan diri dengan realitas. Sedangkan superego merupakan prinsip moral (morality principle), yaitu mengontrol perilaku dari segi moral.

B.     Mekanisme Pertahanan
Freud adalah orang pertama yang mengurakan mekanisme pertahanan pada 1926. Mekanisme pertahanan utama yang diidentifikasikan Freud adalah represi, pembentukan reaksi, pemindahan dan sublimasi, fiksasi, regresi, proyeksi, dan introyeksi.
·         Represi
Mekanisme yang sangat mendasar adalah represi, dan dikatakan mendasar karena mekanisme ini juga terlibat dalam mekanisme-mekanisme lainya. Bila impuls-ilmpuls dari id begitu mengancam, maka kecemasan akan menjadi semakin hebat sampai kepada titik di mana ego tidak dapat lagi menahannya. Untuk melindungi dirinya sendiri, ego mempresepsikan insting itu, yakni ia memaksa perasaan yang tidak dikehendaki iu untuk masuk ke dalam ketidaksadaran. Dalam banyak hal represi digunakan terus selama hidup. Misalnya, seorang perempuan mungkin mempresepsikan permusuhannya terhadap adik perempuannya atau anak laki-laki mungkin mempersepsikan perasaan seksualnya terhadap ibunya karena impuls-impuls ini menimbulkan terlalu banyak kecemasan.
·         Pembentukan reaksi
Salah satu cara dari dorongan yang dipersepsikan memperlihatkan dirinya adalah menggunakan penyamaran yang langsung berlawanan dengan bentuk aslinya, mekanisme itu disebut pembentukan reaksi. Tingkah laku reaktif dapat diidentifikasikan oleh sifatnya yang berlebih-lebihan dan oleh sifatnya yang berlebih-lebihan dan oleh bentuknya yang obsesif dan kompulsif. Contohnya pembentukan reaksi dapat dilihat dalam seorang perempuan yang sangat marah  dan benci terhadap ibunya. Karena ia mengetahui bahwa masyarakat menuntut cinta kepada orang tua, maka kemarahan dan kebencian terhadap ibunya itu akan menyebabkan dia terlalu cemas. Untuk menghindari kecemasan yang menyakitkan itu, anak perempuan tersebut memusatkan perhatian pada dorongan yang berlawanan, yakni cinta. Akan tetapi, cinta kepada ibunya bukan cinta sejati.
·         Proyeksi
Karena superego melarang seseorang mempunyai perasaan atau sikap negatif terhadap orang lain, maka ia berbuat seolah-olah orang lain yang mempunyai perasaan atau sikap negatif terhadap dirinya. Misalnya, A membenci B, tetapi super ego melarang A membenci B (misalnya karena B adalah mertuanya), maka A mengatakan bahwa B yang membenci dia.
·         Penempatan yang Keliru (Displacement)
Jika seseorang tidak dapat melampiaskan perasaan terhadap orang lain karena hambatan dari superego, maka ia akan melampiaskan perasaan tersebut kepada pihak ketiga. Misalnya, A tidak senang karena dimarahi B, tetapi A tidak dapat marah kembali kepada B, karena B adalah atasannya. Maka kemarahannya dilampiaskan kepada bawahannya (kepada C).
·         Supresi (Supression)
Supresi adalah upaya menekan sesuatu yang dianggap membahayakan atau bertentangan dengan super ego ke dalam ketidaksadarannya. Berbeda dari represi, dalam supresi hal yang ditekan atau disupresi adalah hal-hal yang timbul dari ketidaksadarannya sendiri dan belum pernah muncul dalam kesadaran. Misalnya, dorongan seksual dari anak laki-laki terhadap ibunya (dorongan Oedipoes Complex) yang menurut Freud terdapat pada setiap anak, biasanya tidak muncul dalam kesadaran karena bertentangan dengan super ego atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Karena itu biasanya anak menekan (mensupresi) ke dalam ketidaksadarannya.
·         Pemindahan dan Sublimasi
Penjelasan tentang kedua mekanisme telah dibahas dalam uraian sebelumnya. Hanya perlu disinggung di sini bahwa dalam pandangan Freud pembentukan reaksi terbatas hanya pada satu objek. Misalnya, orang dengan cinta reaktif mencurahkan cinta hanya kepada orang yang dibencinya secara tak sadar. Ia tidak menggeneralisasikan cinta tersebut kepada orang-orang lain. Akan tetapi, dalam mekanisme pemindahan, orang dapat mengalihkan dorongan-dorongannya yang tidak dapat diterima itu kepada bermacam-macam objek atau orang sehingga dorongan asli disamarkan atau disembunyikan. Misalnya, seorang perempuan yang marah kepada teman sekamarnya mungkin memindahkan kemarahannya itu kepada karyawannya, kucing kesayangannya, atau binatang sumpalan. Ia tetap ramah kepada teman sekamarnya, tetapi tidak seperti cara kerja pembentukan reaksi, ia tidak melebih-lebihkan kemarahannya itu.
·         Kompensasi (Compensation)
Untuk menutupi kegagalannya dalam suatu bidang kelemahan atau dari bagian/organ fisiknya, ia membuat prestasi yang tinggi dalam budang tersebut yang berkaitan dengan organ fisiknya. Dengan demikian egonya terhindar dari ejekan atau rasa rendah diri. Misalnya, seorang mahasiswi yang tidak cantik sehingga kurang berhasil menarik perhatian dari mahasiswa-mahasiswa teman kuliahnya, kemudian ia belajar tekun sekali sehingga mempunyai prestasi belajar yang tinggi. Walaupun ia gagal menarik perhatian dari teman-teman prianya mengagumi kepandaiannya.
·         Regresi (Regression)
Untuk menghindari kegagalan-kegagalan atau ancaman terhadap egonya, individu mundur kembali ke taraf perkembangan yang lebih rendah misalnya kembali pada masa kanak-kanak. Misalnya, anak yang sudah dewasa tetapi masih kencing dalam celana (ngompol). Ngompol adalah perilaku dalam masa kanak-kanak, padahal ia sudah dewasa.

  1. Unsur-unsur Terapi
Tujuan psikoanalisis adalah memperkuat ego, membuatnya lebih independen dari supergego, memperlebar medan persepsinya, memperluas organisasinya sehingga ia dapat memiliki bagian-bagian yang segar dari id. Freud meringkaskan tujuan psikoterapi dengan berkata. “di mana ada id, di situ ada ego”. Maksudnya adalah psikoanalisis dapat membantu memancarkan terang kesadaran (yang diwakilkan oleh ego sadar) pada pekerjaan-pekerjaan id. Namun freud tidak mengharapkan dan juga tidak bertujuan bahwa klien harus berusaha menyadari semua bahan yang direpresikan semua impuls, hasrat, ketakutan, dan ingatan. Tujuannya adalah hanya untuk menggantikan tingkah laku defensif dengan tingkah laku yang lebih adaptif, dengan berbuat demikian, klien dapat menemukan kepuasan tanpa menghukum dirinya sendiri atau orang lain.
Peran terapis, terapis pada umumnya duduk berhadapan dengan klien. Hal ini, berbeda dengan pendekatan psikonalisis tradisional di mana terapis (psikoanalis) duduk di belakang klien yang berbaring di depan sambil berasosiasi bebas atau menceritakan mimpi-mimpinya. Juga, lebih sering dilakukan percakapan dibandingkan dengan terapi psikoanalisis tradisional.

  1. Teknik-teknik Terapi
Metode yang digunakan Sigmund Freud dalam psikoterapi terkenal dengan nama psikoanalisis. Di dalam ruang praktiknya Freud menggunakan teknik-teknik tertentu seperti analisis mimpi dan teknik asosiasi bebas. Teknik asosiasi bebas adalah pasien diminta mengungkapkan pikiran-pikiran dan perasaannya secara bebas, dalam keadaan rileks, berbaring.
Dalam tahapan psikoanalisis, terdapat salah satu tahapan yang disebut transferens (transference), yaitu perasaan dan sikap-sikap pasien terhadap orang-orang di luar psikoanalisis yang muncul kembali dalam hubungan pasien dengan analisis (pemberi terapi). Transferens dapat positif atau negatif. Transferens positif terjadi bila yang muncul adalah emosi-emosi semacam afeksi dan ketergantungan. Transferens negatif terjadi jika yang muncul adalah emosi-emosi semacam kemarahan.

Menurut Freud, transferens ini, baik positif maupun negatif, dapat bermanfaat. Jika terjadi transferens, analisis dapat menginterpretasikan dan mengembangkan analisisnya berdasarkan transferens yang terjadi. Analisis mimpi adalah pasien diminta berbaring santai di atas dipan dan diminta mengungkapkan apa saja yang melintas di benaknya, dan juga diminta menceritakan mimpi-mimpinya. Freud menemukan bahwa jika diberi kondisi yang tepat, maka si pasien akan segera memulai berbicara tentang kenangan-kenangan atas berbagai pengalaman di awal masa kanak-kanak nya dan kenangan-kenangan ini, bersama hasil interpretasi mimpi-mimpinya, akan memberikan kepada sang terapis pemahaman tentang kepribadian pasien serta bagaimana kepribadian itu berkembang. Dengan mengurangi rasa bersalahnya dan denan menumbuhkan kemampuannya untuk mengarahkan kembali atau mensublimasikan hasratnya yang ditekan itu, si pasien diharapkan dapat mengatasi gangguan mentalnya.

Sumber:
A.M. Heru Basuki (2008). Psikologi umum. Jakarta: Universitas Gunadarma. 
Semiun, Yustinus. (2006). Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik freud. Yogyakarta: KANISIUS
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius

Tuesday, March 24, 2015

Psikoterapi (Tugas 2)

Perbedaan antara Psikoterapi dan Konseling
Konseling dan Psikoterapi memiliki persamaan dan perbdedaan serta mempunyai ketertarikan satu dengan lainnya. Perbedaan antara keduanya tidak bisa dibuat secara jelas, akan tetapi banyak hal-hal yang dilakukan oleh konselor juga dilakukan oleh psikoterapis, dan hal-hal yang merupakan praktik psikoterapis juga dilakukan oleh konselor. Sekedar gambaran perbedaan adalah sebagai berikut:
1.      Konseling umumnya berkenaan dengan orang-orang yang tergolong normal, sedangkan psikoterapi terutama berkenaan dengan orang-orang yang mendapat gangguan psikis.
2.      Konseling lebih bersifat edukatif, suportif, berorientasi kesadaran, dan jangka pendek. Sedangkan psikoterapi lebih bersifat rekonstruktif, kontrontif, berorientasi ketidaksadaran dan jangka panjang.
3.      Konseling lebih terstruktur dan terarah kepada tujuan-tujuan yang lebih terbatas dan kongkrit. Sedangkan psikoterapi lebih luas dan mengarah kepada tujuan yang lebih jauh.

Bentuk-bentuk utama dalam Terapi
            Berikut ini adalah bentuk-bentuk utama dari terapi:
-          Terapi Psikoanalitik
Perkembangan kepribadian yang normal berlandaskan resolusi dan integrasi fase-fase perkembangan psikoseksual yang berhasil. Perkembangan kepribadian yang gagal merupakan akibat dari resolusi sejumlah fase perkembangan psikoseksual yang tidak memadai. id, ego, dan superego membentuk dasar bagi struktur kepribadian. Kecemasan adalah akibat perepresian konflik-konflik dasar. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego dikembangkan untuk mengendalikan kecemasan. Proses-proses tak dasar berkaitan erat dengan tingkah laku yang muncul sekarang.
-          Terapi Eksistensial-Humanistik
Pada dasarnya merupakan suatu pendekatan terhadap konseling dan terapi alih-alih suatu model teoritis tetap. Terapi eksistensial-humanistik menekankan kondisi-kondisi inti manusia. Perkembangan kepribadian yang normal berlandaskan keunikan masing-masing indvidu. Kesadaran diri berkembang sejak bayi. Determinasi diri dan kecenderungan ke arah pertumbuhan adalah gagasan-gagasan sentral. Psikopatologi adalah akibat dari kegagalan dalam mengaktualkan potensi. Pembedaan-pembedaan dibuat antara “rasa bersalah eksistenial” dan “rasa bersalah neurotik” dan “kecemasan neurotik”. Berfokus pada saat sekarang dan pada menjadi apa seseorang itu; yang berarti memiliki orientasi ke masa depan. Ia menekankan kesadaran diri sebelum bertindak. Ia adalah terapi eksperiensial.
-          Terapi Client-Centered
Klien memiliki kemampuan untuk menjadi sadar atas masalah-masalahnya serta  cara-cara mengatasinya. Kepercayaan diletakkan pada kesanggupan klien untuk mengarahkan dirinya sendiri. Kesehatan mental adalah keselarasan antara diri ideal dan diri real. Maladjustment adalah akibat dari kesenjangan antara diri ideal dan diri real. Berfokus pada saat sekarang serta pada mengalami dan mengekspresikan perasaan-perasaan.
-          Terapi Gestalt
Berfokus pada apa dan bagaimana mengalami di sini dan sekarang untuk membantu klien agar menerima polaritas-polaritas dirinya. Konsep-konsep utama mencakup tanggung jawab pribadi, urusan yang tak selesai, penghindaran, mengalami dan menyadari saat sekarang. Ia adalah terapi eksperiensial yang menekankan perasaan-perasaan dan pengaruh-pengaruh urusan yang tak selesai terhadap perkembangan kepribadian sekarang.
-          Analisis Transaksional
Berfokus pada permainan-permainan yang dimainkan untuk menghindari keakraban dalam transaksi-transaksi. Kepribadian terdiri aras ego Orangtua, ego Orang Dewasa, dan ego Anak. Klien diajari untuk menyadari ego mana yang berperan dalam transaksi-transaksi yang dijalankan. Permainan, penipuan, putusan-putusan dini, skenario kehidupan, dan internalisasi perintah-perintah adalah konsep-konsep utama.
-          Terapi Tingkah Laku
Berfokus pada tingkah laku yang tampak, ketepatan dalam menyusun tujuan-tujuan treatment, pengembangan rencana-rencana treatment yang spesifik, dan evaluasi objektif atas hasil-hasil terapi. Terapi belandaskan prinsip-prinsip teori belajar. Tingkah laku yang normal dipelajari melalui perkuatan dan peniruan. Tingkah laku yang abnormal adalah akibat dari belajar yang keliru. Ia menekankan tingkah laku sekarang dan hanya memberkan sedikit perhatian kepada sejarah masa lampau dan sumber-sumber gangguan.
-          Terapi Rasional-Emotif
Neurosis adalah pemikiran dan tingkah laku irasional. Gangguan=gangguan emosional berakar pada masa kanak-kanak, terapi dikekalan melalui reindoktrinasi sekarang. Sistem keyakinan adalah penyebab masalah-masalah emosional. Oleh karenanya, klien ditantang untuk menguji kesahihan keyakinan-keyakinan tertentu. Metode ilmiah diterapkan pada kehidupan sehari-hari.
-          Terapi Realitas
Pendekatan ini menolak modal medis dan konsep tentang penyakit mental. Berfokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang, dan menolak pada lampau sebagai variabel utama. Pertimbangan nilai dan tanggung jawab moral ditekankan. Kesehatan mental sama dengan penerimaan atas tanggung jawab.

Daftar Pustaka:
Corey, Gerald. (2009). Teori praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama
Surya, Prof. DR. H. Mohamad. (2003). Psikologi konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy


Monday, March 16, 2015

Psikoterapi (Tugas 1)

Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi merupakan suatu bidang yang tidak disertai objektivitas keilmiahan yang tinggi. Meskipun demikian, jelas bahwa banyak pasien mendapatkan keuntungan dari perhatian dan bahwa inti dari perhatian tersebut adalah hubungan terapis-pasien yang baik, yang dibangun dari minat yang tulus dan saling percaya. Psikoterapi merupakan suatu seni, dan terapi yang baik dapat membuat perbedaan yang bermakna. Secara umum, Anda harus mencari terapi yang cocok untuk setiap pasien (yaitu, pasien akan merasa nyaman dengan suatu jenis terapi tertentu dan juga terapisnya).
Di sisi lain, banyak praktisi berpendapat bahwa psikoterapi merupakan sebuah seni dan bahwa pelatihandalam metode penelitian secara luas tidak relavan dengan pekerjaan yang mereka lakukan bagi para kliennya.

Tujuan serta Unsur Psikoterapi
            Ada lima tujuan psikoterapi dan kebanyakan terapi memusatkan perhatian pada salah satu atau lebih di antara tujuan-tujuan itu. Kelima tujuan tersebut dapat diutarakan di bawah ini.
  1. Pikiran-pikiran kalut. Individu-individu yang mengalami kesulitan secara khas menderita konfusi, pola-pola pikiran yang destruktif, atau tidak memahami masalah-masalah mereka sendiri. Para terapis berusaha mengubah pikiran-pikiran ini dan memberikan ide-ide atau informasi baru, dan membimbing individu-individu tersebut untuk menemukan pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah mereka sendiri.
  2. Emosi-emosi yang kalut. Orang-orang yang mencari terapi pada umumnya mengalami emosi yang sangat tidak menyenangkan. Dengan mendorong pasien untuk mengungkapkan secara bebas perasaan-perasaan dan memberikan suatu lingkungan yang menunjung, para terapis membantu mereka menggantikan perasaan-perasaan tersebut, seperti perasaan putus asa dan perasaan tidak mampu dengan perasaan-perasaan yang mengandung harapan dan percaya akan diri sendiri.
  3. Tingkah laku-tingkah laku yang kalut. Individu-individu yang mengalami kesulitan biasanya memperlihatkan tingkah laku-tingkah laku yang mengandung masalah. Para terapis membantu pasien-pasien mereka menghilangkan tingkah laku-tingkah laku yang mengganggu itu dan membimbing mereka kepada kehidupan yang lebih efektif.
  4. Kesulitan-kesulitan antarpribadi dan situasi kehidupan. Para terapis membantu pasien-pasien memperbaiki hubungan mereka dengan keluarga, teman-teman, dan kolega-kolega seprofesi. Mereka juga membantu para pasien itu menghindari atau mengurangi sumber-sumber stress dalam kehidupan mereka seperti tuntutan-tuntutan pekerjaan atau konflik-konflik keluarga.
  5. Gangguan-gangguan biomedis. Individu-individu yang mengalami kesulitan kadang-kadang menderita gangguan-gangguan biomedis yang langsung menyebabkan atau menambah kesulitan-kesulitan psikologis. Para terapis membantu menghilangkan masalah-masalah ini pertama tama dengan obat-obatan, dan kadang-kadang dengan terapi elektrokonvulsif.

Daftar Pustaka
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius
Wade, Carole., Tavris, Carol. (2008). Psikologi. Jakarta: Erlangga
Williams, Lippincott., Wilkins. (2000). Buku saku psikiatri. Jakarta: Buku Kedokteran EGC


Thursday, January 8, 2015

Komunikasi, Pelatihan dan Pengembangan

Komunikasi dalam Manajemen
A.    Definisi Komunikasi
Kata komunikasi berasal dari bahasa Latin communication yang berarti ‘pemberitahuan’ atau ‘pertukaran pikiran’. Jadi secara garis besar, dalam suatu proses komunikasi haruslah terdapat unsur-unsur kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran pikiran dan pengertian antara komunikator (penyebar pesan) dan komunikan (penerima pesan).
Berikut ini merupakan definisi dari komunikasi menurut beberapa ahli:
·           Komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakan apa dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa. – Laswell
·           Komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol. – Theodorson dan Thedorson
·           Komunikasi adalah seni menyampaikan informasi, ide dan sikap seseorang kepada orang lain. – Edwin Emery
·           Komunikasi berarti suatu mekanisme suatu hubungan antar manusia dilakukan dengan mengartikan simbol secara lisan dan membacanya melalui ruang dan menyimpan dalam waktu. – Charles H. Cooley

B.     Proses Komunikasi
Proses komunikasi adalah setiap langkah mulai dari saat menciptakan informasi sampai dipahami oleh komunikan. Proses komunikasi juga dapat diartikan sebagai ‘transfer informasi’ atau pesan (message) dari pengirim pesan sebagai komunikator dan kepada penerima sebagai komunikan. Dalam proses komunikasi tersebut bertujuan untuk mencapai saling pengertian (mutual understanding) antara kedua pihak yang terlibat dalam proses komunikasi. Dalam proses komunikasi, komunikator mengirimkan pesan.informasi kepada komunikan sebagai sasaran komunikasi.
Dalam aplikasinya, langkah-langkah dalam proses komunikasi adalah sebagai berikut:
1.      Langkah pertama, ide/gagasan diciptakan oleh sumber/komunikator.
2.      Langkah kedua, ide yang diciptakan tersebut kemudian dialih bentukan menjadi lambing-lambang komunikasi yang mempunyai makna dan dapat dikirimkan.
3.      Langkah ketiga, pesan yang telah di encoding tersebut selanjutnya dikirimkan melalui saluran/media yang sesuai dengan karakteristik lambing-lambang komunikasi ditujukan kepada komunikan.
4.      Langkah keempat, penerima menafsirkan isi pesan sesuai dengan persepsinya untuk mengartikan maksud pesan tersebut.
5.      Langkah kelima, apabila pesan tersebut telah berhasil di decoding, khalayak akan mengirim kembali pesan tersebut ke komunikator.

C.    Hambatan Komunikasi
Komunikasi yang efektif menjadi harapan semua orang yang berkomunikasi. Berikut ini merupakan hambatan dalam berkomunikasi:
1.      Pesan yang diterima tidak dimengerti sebagaimana yang dimaksud oleh pengirimnya.
2.      Pesan yang disetujui oleh penerima tidak ditindaklanjuti dengan perbuatan yang diminta oleh pengirim.

D.    Definisi Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah interaksi tatap muka antar dua atau beberapa orang, di mana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung, dan penerima pesan dapat menerima dan menanggapi secara langsung pula. Kebanyakan komunikasi interpersonal berbentuk verbal disertai ungkapan-ungkapan nonverbal dan dilakukan secara lisan. Cara tertulis diambil sejauh diperlukan, misalnya dalam bentuk memo, surat, atau catatan.
Komunikasi interpersonal dengan masing-masing orang berbeda tingkat kedalaman komunikasinya, tingkat intensifnya, dan tingkat ekstensifnya. Komunikasi interpersonal antara dua orang kenalan tentu berbeda dengan komunikasi interpersonal antar sahabat atau kekasih. Berkat komunikasi itu merka yang terlibat dapat semakin mengenal. Karena itu juga komunikasi interpersonal, seseorang kenalan pada akhirnya menjadi sahabat.

Pelatihan dan Pengembangan
A.    Definisi Pelatihan
Pelatihan adalah proses pembelajaran yang lebih menekankan praktik daripada teori yang dilakukan seseorang atau sekelompok dengan menggunakan pendekatan berbagai pembelajaran dan bertujuan meningkatkan kemampuan dalam satu atau beberapa jenis keterampilan tertentu.
Pelatihan juga dapat dikatakan sebagai serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian-keahlian, pengetahuan, pengalaman, ataupu perubahan sikap seorang individu. Pelatihan berkenaan dengan perolehan keahlian-keahlian atau pengetahuan tertentu.

B.     Tujuan dan Sasaran Pelatihan dan Pengembangan
Pelatihan dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kinerja, dan perilaku individu, kelompok, maupun organisasi. Oleh karena itu, kegiatan pelatihan harus dirancang sedemikian rupa agar benar-benar memberikan manfaat sesuai dengan tujuan pelaksanaannya.
Tujuan pelatihan yaitu agar peserta pelatihan baik kelompok atau organisasi maupun perseorangan dapat menguasai pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang dilatihkan dalam program pelatihan sehingga dapat diaplikasikan baik untuk jangka waktu pendek maupun jangka waktu yang lama.
Tujuan pelatihan bisa juga suatu pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap/perilaku yang diharapkan dapat dicapai atau dikuasai oleh peserta pelatihan ketika pelatihan telah selesai.
Pada saat ini, umumnya tujuan pelatihan dibuat dalam standar kompetensi, karena biasanya pelatihan bertujuan untuk pemenuhan suatu kompetensi tertentu. Jadi, pelatihan dan pengembangan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengembangan secara konseptual  untuk mengubah sikap pegawai terghadap pekerjaan.

C.    Perbedaan Pelatihan dan Pengembangan
Perkembangan dan pelatihan merupakan dua konsep yang sama, yaitu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan. Tetapi, dilihat dari tujuannya, umumnya kedua konsep tersebut dapat dibedakan. Pelatihan lebih ditekankan pada peningkatan kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang spesifik pada saat ini, sedangkan pengembangan lebih ditekankan pada peningkatan pengetahuan untuk melakukan pekerjaan pada masa yang akan datang, yang dilakukan melalui pendekatan yang terintegrasi dengan kegiatan lain untuk mengubah perilaku kerja.

D.    Faktor Psikologi dalam Pelatihan dan Pengembangan
Salah satu cabang dari ilmu Psikologi yang membahas tentang perusahaan adalah Psikologi Industri dan Organisasi, PIO sangat berperan penting pada bagian-bagian pengembangan sumber daya manusia, seperti rekrutmen, seleksi dan penempatan, pelatihan, dan pengembangan. PIO juga berperan penting pada desain struktur organisasi dan desain pekerjaan. Faktor-faktor psikologis juga dapat mempengaruhi seseorang dalam bekerja.
E.     Teknik dan Metode Pelatihan
Teknik pelatihan dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seorang trainer dalam mengimplementasikan suatu metode pelatihan secara spesifik.
Di bawah ini beberapa teknik yang lazim digunakan dalam suatu pelatihan:
1.      Teknik on The Job Training
Teknik on the job training yaitu melatih peserta pelatihan untuk mempelajari suatu materi pelatihan/pekerjaan sambil mengerjakannya/mempraktikannya. Atau bisa juga disebut pelatihan yang dilakukan pekerjaan/aktivitas dari peserta pelatihan itu sendiri. Teknik on the job training merupakan pelatihan yang menggunakan situasi dalam pekerjaan.
Di sini peserta pelatihan diberi pelatihan tentang pekerjaan/materi baru dengan supervise/coaching langsung dari seorang trainer yang berpengalaman (biasanya trainer dari lingkungan sendiri atau didatangkan dari luar). Teknik on the job training ini dapat digunakan pada metode praktik dan metode latihan.
Kelebihan teknik on the job training
-          Relatif tidak mahal.
-          Berlatih sambil berproduksi atau menghasilkan sesuatu.
-          Tidak dibutuhkan tempat pelatihan khusus.
-          Mendapatkan umpan balik yang cepat.
Kekurangan teknik on the job training
-          Trainer yang dipakai, harus orang yang tepat.
2.      Teknik off The Job Training
Teknik off the job training adalah teknik pelatihan yang menggunakan situasi di luar pekerjaan/aktivitas peserta pelatihan. Dipergunakan apabila banyak peserta pelatihan yang harus dilatih dengan cepat dan secara bersama-sama. Teknik off the job training ini dapat digunakan pada metode ceramah, metode presentasi, metode role playing (bermain peran), metode kasus, dan metode simulasi.
Kelebihan teknik off the job training
-          Biaya pelatihan tidak mahal, karena berkelompok.
-          Membuat wawasan baru.
-          Pemisah waktu pelatihan dan waktu bekerja peserta pelatihan.
Kekurangan teknik off the job training
-          Teknik off the job training bersifat teoritis.
-          Kecocokan tipe pelatihan yang kurang dengan kebutuhan yang ada.
3.      Teknik Fasilitasi
Fasilitasi memiliki makna “membuat sesuatu/semua menjadi mudah” atau “membuat lebih mudah atau tidak terlalu sulit”. Teknik fasilitasi dalam pelatihan adalah suatu teknik dimana terjadi proses sadar dan sepenuh hati seorang trainer membantu peserta pelatihan dalam meraih tujuan pelatihan dengan taat pada nilai-nilai dasar dan peraturan yang disepakati dalam proses pelatihan tersebut.
Dalam proses pelatihan yang menggunakan teknik fasilitasi dibutuhkan orang yang berperan mengelola pelatihan yang disebut dengan “fasilitator”. Seorang fasilitator dalam teknik fasilitasi adalah orang yang membuat kerja peserta pelatihan menjadi lebih mudah karena kemampuannya dalam menstrukturkan dan memandu partisipasi para peserta pelatihan.
Seorang fasilitator mempunyai tugas utama membantu peserta pelatihan meningkatkan efektivitasnya dengan cara menyempurnakan proses dan struktur yang terjadi pada proses pelatihan. Proses artinya bagaimana peserta pelatihan bekerjasama. Termasuk di dalamnya bagaimana masing-masing peserta pelatihan berinteraksi satu sama lain, bagaimana mereka mengidentifikasi dan memecahkan persoalan, bagaimana mereka membuat keputusan-keputusan, dan bagaimana mereka menangani konflik. Struktur maksudnya bagaimana proses interaksi antar peserta pelatihan itu berlangsung.

Untuk melaksanakan semua itu, seorang fasilitator perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai beberapa hal yang berkaitan erat dengan proses dan struktur yang terjadi dalam pelatihan. Peserta pelatihan berinteraksi dan saling belajar, maka seorang fasilitator perlu tahu tentang teori belajar dalam pelatihan, pendekatan pelatihan, metode-metode dalam pelatihan, dan mengelola dinamika peserta pelatihan. Seorang fasilitator juga perlu tahu kiat agar peserta pelatihan yang difasilitasinya terus mengikuti proses pelatihan dengan penuh semangat dan bergairah, maka ia pun perlu tahu bagaimana mengelola kreativitas dalam suatu proses pelatihan.


Sumber:
Suprapto, Tommy. (2009). Pengantar teori dan manajemen komunikasi. Jakarta: Medpress.
Hardjana, Agus M. (2003). Komunikasi intrapersonal dan interpersonal. Yogyakarta: KANISIUS.
Santoso, Budi. (2009). Skema dan mekanisme pelatihan. Jakarta: TERANGI.